Nonton Kepbo dulu guys

Translate

Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2013

cerita seks-Belah duren anak Kost

cerita seks-Belah duren anak Kost
Dinding rumah mulai agak kusam,tandanya rumah harus segera ada perhatian.Ya plafon juga sudah ada sedikit ada sedikit kerusakan,ya lumyan lama rumah ini berdiri sekitar 5 tahun yang lalu.Suasanya halaman yang dulunya asri oleh bunga warna-warni kini seakan tiada lagi,hanya tertinggal berbagi saja,bunga tulip,melati satu batang,bunga anggrek pemberian tante.Semua itu prediksi ku harus segera di percepat mengingat rumah ku sebagai tempat kost,Penghuninya biar nyaman yang “punya rumah kudu”perhatian juga.Mengingat service itu dimana saja harus baik.Aku Punya tempat kos-kosan,dengan menjadikan rumah sebagai tempat beristirihat sejenak bagi yang membutuhkan,Tapi dalam yang ku alami aku tidak pernah menduga ada kejadian mengesankan,ini ceritanya,Pertama kali aku mengenalnya adalah saat pulang dari Jakarta, dia adalah siswa sekolah keguruan yang ada di kotaku pada saat itu,dia cantik,manis dan bertubuh mungil dengan kulit putih. Dasar nasibku lagi mujur tak lama berselang dia pindah kost kerumahku jadi mudah bagiku tuk lebih jauh mengenalnya.

Ternyata orangnya supel dan pandai bergaul, sehingga aku tambah berani tuk menyatakan perasaan hatiku, lagi-lagi aku beruntung dia menerima pernyataanku ,ukh bahagianya aku.

Suatu hari aku ada acara keluar kota ,iseng aku mengajaknya pergi,ternyata dia menyambut ajakanku. Sepanjang jalan menuju luar kota kami ngobrol sambil bercanda mesra,kadang tanganku iseng pura –pura tak disengaja menyentuh pahanya mulanya dia menepis tanganku tapi lama kelamaan membiarkan tanganku yang iseng mengelus pahanya yang putih dan gempal,aku memberanikan diri mengelus- elus pahanya sampai kepangkal pahanya . Dia tetap diam bahkan seperti menikmati elusan tanganku.

Aku tarik tanganku dari rok hitamya lalu bertanya padanya boleh nggak aku menyentuh payudaranya yang membukit dibalik baju berwarna pink.mulanya dia menolak ,aku coba merayunya bahwa aku ingin mengelus walau hanya sebentar.

Akhirnya dia mengangguk pelan,langsung aja tanganku menyusup kebalik bajunya dan mengusap,mengelus bahkan saat kuremas susunya yang mungil dan kenyal dia hanya mendesah dan menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil yang kami kendarai.Kupermainkan putting susunya dengan dua jari dia semakin mendesah ,sambil tetap menyetir aku tarik reslting celanaku dan aku keluarkan penisku yang telah menegang sejak tadi bak laras tank baja ,aku pegang tangannya dan kutarik kearah penisku, saat tangannya menyentuh penisku yang besar dan panjang dia tarik kembali tangannya mungkin kaget karena baru pertama kali.

Dengan sedikit basa basi kembali kutarik tangannya tuk memegang penisku akhinya dia menyerah kemudian mulai mengelus penisku perlahan.

“ Ang,punyamu besar sekali hampir sebesar pergelangan tanganku “ katanya
“ Hmm,susumu juga kenyal sekali “ kataku sambil menikmati elusan tangannya pada penisku

Tak lama kami sampai di kota tujuan,langsung aku cari tempat untuk menginap setelah itu pergi lagi tuk belanja keperluan selama di kota itu.

Malam kami ngobrol diberanda depan kamar tempat kami menginap sambil nonton tv ,kami duduk berdampingan sekali kali tanganku bergerilnya ditubuhnya ternyata dia dibalik baju tidurnya dia hanya memakai cd sehingga tanganku bisa bebas meremas remas susunya dan mempermainkan putingnya .
“ Akh,Ang jangan terlalu keras “ katanya kala kuremas dengan rasa gemas.
“ Maaf,habis susumu kenyal sekali “ kataku
“ Iya ,tapi sakit “ katanya
“ Iya pelan deh,kita pindah kedalam yuk “ kataku berbisik padanya dan mengangguk perlahan.

Sesampainya didalam aku peluk dia dari belakang,kuciumi tengkuknya yang putih dengan penuh nafsu dia bergelinjang kegelian sedangkan kedua tanganku bergerilya pada tubuhnya.
“ Akh,Ang ………..shhhhhhhh “ kata mendesah

Tanganku mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan kulepas bajunya hanya tinggal cd nya yang berwarna hitam.Kukulum bibirnya ,dia membalas kulumanku dengan penuh gairah.Tangannya mengusap-usap penisku sesekali meremasnya sehingga aku merasakan nikmat yang tak terhingga.

“Ukh,…teruskan yang “ kataku
“ Ikh besar sekali,panjang lagi “ katanya.
“ Ssssst ,”kataku sambil mengulum putting susunya yang makin menegang,tanganku kupergunakan untuk menurunkan cdnya .Kuusap perlahan gundukan daging empuk yang ditumbuhi bulu – bulu hitam halus ,dia menggelinjang kegelian dan kulanjutkan dengan menggelitik belahan memeknya hangat terasa.

“Akh,….teruskan pelan pelan “katanya sambil meremas penisku.Kemudian aku menurunka kulumanku pada susunya ke pusarnya ,dia mengangkat pinggangnya keenakan kuteruskan ciumanku pada memeknya dan menegang saat lidahku yang kasar menjilati memeknya yang merah merekah. Dia mengimbangi permainan lidahku dengan menggoyangkan pinggulnya bibirnya tak henti-henti mendesah .

“Sekarang giliranmu sayang “kataku padanya sambil menyodorkan penisku kemulutnya .Perlahan tapi pasti dia mulai menciumi batang kemaluanku yang sejak tadi menegang ,saat dia mulai mengulum penisku terbang rasanya menahan rasa nikmat .

Setelah itu kutelentangkan kekasihku yang putih,susunya yang mungil menggunung dengan memeknya yang merah merekah dibalik bulu- bulu hitam halus .Perlahan – lahan aku menaikinya ,kugosok-gosokkan penisku pada belahan memeknya dia meregang sambil mendesah tak karuan merasakan nikmatnya gosokkan penisku.Kemudian kutekan sedikit demi sedikit penisku pada memeknya ,pinggulnya naik seakan menyuruh agar penisku segera dimasukkan pada memeknya.

“Ayo,akh aaaaaaaakh teruskan sayangku” katanya sambil menarik pinggangku
“Baiklah ,sayang aku masukkan ya “ kataku sambil menekan penisku agar masuk lebih dalam lagi pada lubang memeknya perlahan karena takut dia kesakitan,sempit sekali.

“Aduh..,sakit Ang akh……..” katanya
“Sebentar juga hilang “ kataku,penisku keluar masuk memeknya yang terasa basah dan hangat.Rupanya ini pengalaman pertama baginya karena ada noda darah pada pangkal pahanya.

“Terus ….lebih cepat akh………ukh nikmat sekali kontolmu yang” katanya berani mungkin karena pengaruh rasa nikmat dari keluar masuknya penisku yang panjangnya 28 cm,penisku pun mulai merasakan nikmat dari gesekan dengan dinding dalam memeknya.

“Akh…….terus goyang pinggulmu “ kataku padanya,dan dia menuruti kataku menggoyangkan pinggulnya Tak lama dia mengerang sambil memelukku erat rupanya dia telah mencapai orgasme,dia berbaring lemas dibawaku sedangkan penisku masih menancap pada memeknya yang terasa basah .Terlihat ada air mata pada ujung kelopak matanya ,melihat itu aku segera berbisik padanya bahwa aku akan bertanggung jawab atas semua ini.Barulah dia berubah riang kembali dan aku mulai aktifitas kembali menaik turunkan penisku dan dia merespon gerakanku dengan bersemangat .Malam itu melakukannya sebanyak 6 kali sampai akhirnya tertidur pulas sampai pagi.

Sabtu, 06 Juli 2013

Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku

Begitu turun kapal di pagi hari di Tanjung Priok, Giman tetangga sebelahku telah menungguku. Dia menggelandangku untuk mampir makan di Saiyo Bundo warung Padang kesukaanku tidak jauh dari dermaga. Sembari makan dengan rakusnya, dengan penuh antusias dia menceritakan bahwa beberapa hari terakhir ini dia melihat dengan perasaan curiga. Seorang lelaki, usianya sekitar 52 tahun, 15 tahun lebih tua dari aku, selama minggu-minggu terakhir ini, setiap dini hari termasuk tadi pagi, sekitar pukul 5, nampak keluar dari rumahku. Dia curiga istriku pasti telah berselingkuh dengan lelaki itu.

Mendengar omongan Giman teman akrab dan tetanggaku yang tak pernah kuragukan jujur dan tanpa pamrihnya sepertinya aku sangat terpukul. Shock. Aku limbung. Jiwaku sungguh-sungguh tergoncang. Aku jadi merasa kecil, disepelekan, diabaikan, dikalahkan, dihina, ditinggalkan. Martabat dan harga diriku dihancurkan, diluluh lantakkan.

Langsung terbayang di mataku. Seorang lelaki tua seumur bapaknya menggauli dia, Warni istriku yang baru berusia 28 tahun itu. Mungkin lelaki tua yang kekar berotot sebagaimana yang sering diinginkan Warni padaku agar banyak berolah raga supaya tubuhku kekar berotot. Lelaki tua itu bercumbu, berasyik masyuk melepaskan syahwat birahinya pada istriku.

Terbayang bagaimana istriku yang sangat mendambakan lelaki berotot menggigiti dadanya yang gempal penuh otot dengan sepenuh gairah birahinya. Tentu Warni mendesak-desakkan pantatnya, sebagaimana yang dia lakukan padaku juga, yang tak sabar menunggu penis lelaki itu menembusi vaginanya. Dan kubayangkan pula bagaimana Warni mendesah atau merintih saat menerima tusukkan penis Pak tua itu di kemaluannya.

Aku paham ke-liar-an Warni saat orgasmenya datang menyerbu. Kubayangkan dia bergelinjang sambil menggeliat-geliatkan pinggulnya untuk menahan gatal syahwatnya. Saat dorongan ejakulasinya mendesak-desak untuk muncrat dari lubang vaginanya, tangan-tangannya pasti akan mencengkeram atau mencakar punggung Pak tua itu hingga membuatnya luka dan mengeluarkan darah.
Bayangan-bayangan diatas semakin membuat aku sebagai lelaki atau sebagai suami yang tak ada artinya. Aku sepenuhnya menjadi pecundang yang akan melata terseok-seok di tanah.

Tetapi aneh.. Dan mengherankan. Kenapa bayangan pada Warni istriku telah membuat aku demikian tercampak itu tidak juga membakar rasa cemburuku. Ada lelaki lain hadir yang selalu berasyik masyuk dengan istriku saat aku berlayar di tengah lautan. Aku yang berlayar demi kehidupan perkawinan dan masa depanku bersama Warni yang telah 5 tahun ini kunikahi.

Aku memang merasa terbakar atau terpanggang hidup-hidup. Aku seakan telah menggeliat-geliat tanpa mampu menghindarkan panasnya rasa amarah, tetapi bukan cemburu. Bahkan kemaluanku mengeras. Penisku ngaceng tegak mendorong dalam celanaku. Benarkah terjadi? Mungkinkah pukulan itu langsung merubah kepribadianku? Merubah oreientasi seksualku?

Ah, aku harus menyangsikan cerita Giman ini? Apa dia tak salah lihat? Bukankah Warni selalu menunjukkan cinta dan kesetiaannya padaku selama ini? Walaupun tetangga sebelahku ini kuyakini sebagai orang yang paling jujur dan baik, aku tidak boleh begitu saja percaya pada ceritanya. Sebaiknya aku lekas pulang. Aku harus menyaksikannya sendiri.

Warni nampak terkejut saat aku muncul di pintu. Memang seharusnya aku belum pulang. Tetapi karena kapalku harus mengisi bahan bakar maka aku bisa pulang ke rumah. Aku tidak menunjukkan kecurigaan apa-apa saat ketemu istriku. Aku merangkulnya dengan hangat sambil mencium jidadnya. Demikian pula Warni. Dia menyambutku dengan penuh rindu. Ia cium pipiku dan kemudian merembet ke bibirku. Dia melumat kumis dan bibirku. Kami berasyik bertukar lidah dan ludah. Aku sempat meremas kecil payudaranya yang masih 'getas' itu. Sesungguhnyalah istriku Warni adalah perempuan yang sangat cantik.

Tampilan Warni sangatlah menggemaskan mata para lelaki. Aku harus menyisihkan banyak saingan saat aku melamarnya. Di lingkungan desanya Warni adalah kembangnya. Kecantikan Warni sering jadi bahan omongan para lelaki baik yang masih bujangan maupun yang sudah beranak pinak.

Menurut pendapatku kecantikan Warni adalah jenis kecantikan alami yang mudah membangkitkan syahwat. Tubuhnya padat dan kencang. Dengan ukuran tubuhnya yang sedang saja mepakai baju apapun Warni akan terlihat luwes dan pantes. Bibirnya, lehernya, anak-anak rambutnya pada tengkuk atau jidad, dadanya yang bidang dengan buah dada yang hhuuhh.. Sungguh membuat penis lelaki langsung ngaceng ingin merasai nikmat legit vaginanya.

Pinggul dan pantatnya sangat serasi saat berjalan, membungkuk ataupun duduk. Dan melihat Warni saat melenggang di jalanan sepertinya orang Jawa bilang 'macam luwe' atau harimau yang lapar. Langkah-langkah kakinya saat bergerak maju yang diikuti oleh ayunan pinggul dan pantatnya serta lenggang lengan serta ayunan bahu.. Wwoow.. Aku tak mampu menceritakan keserasian yang sarat dengan pandangan birahiku.

Dan kenyataan yang lebih hebat lagi, Warni seperti kuda liar yang binal setiap melayani aku di ranjang. Dia selalu nampak haus dan menunggu belaianku. Warni termasuk perempuan yang tak mudah dipuaskan syahwatnya. Aku sering terpikir, seberapa jauh aku bisa mengimbangi hasrat birahinya. Atau, mampukan aku memberikan kepuasan seksual ke istriku Warni ini?!

Adakah itu pula yang menyebabkan lahirnya cerita si Giman tetanggaku itu? Mungkinkah aku terlampau lama melaut hingga Warni tak mampu menahan gelora syahwatnya? Ah.., memang selama ini aku selalu khawatir setiap memikirkan istriku Warni yang 'hot' itu saat aku berada di tengah samudra. Bayangan akan hadirnya lelaki lain memang sering dan membuat hatiku merana. Aku sering membayangkan seandainya itu terjadi. Aku jadi terpukul-pukul dan terluka oleh bayanganku sendiri.

Seperti biasa setiap pagi Warni pergi belanja ke pasar. Pagi itu saat hendak berangkat dia menawari aku ingin makan apa? Dia akan masak makanan kesukaanku. Aku serahkan pada dia untuk memilihnya. Aku ingin dia lekas keluar rumah ke pasar. Aku ingin melihat-lihat keadaan rumah, siapa tahu ada petunjuk tentang adanya lelaki tua itu.

Aku amati perabotan di rumah. Mungkin ada rokok tyang tertingal. Atau benda-benda khas lelaki lainnya. Aku juga buka-buka lemari pakaian. Adakah yang mencurigakan? Mungkin bau minyak wangi, atau ada baju baru yang kemungkinan pemberian lelaki tua itu.

Kemudia kulihat pula tas tangannya atau dompetnya. Siapa tahu disitu ada benda-benda yang pantas dicurigai?! Ternyata aku tak menemukan apa-apa. Aku lantas duduk diam. Memikirkan kemungkinan lainnya. Dan.. Achh, siapa tahu.. Aku pergi ke kamar mandi. Aku periksa pula pakaian kotornya yang masih nge-gantung di kamar mandi. Bukankah tadi pagi Giman masih memergoki lelaki itu?!

Aku lihat blus, kutang dan roknya. Kuamati dengan cukup cermat. Kulihat noda-noda keringatnya yang membentuk seperti peta. Itu tidak membuat aku khawatir atau curiga. Kini kuraih celana dalam Warni yang berwarna merah dengan kembang-kembang lembut. Kuamati cermat pula. Di arah selangkangannya, kemudian di bagian yang menutupi vaginanya. Disitu aku tiba-tiba.. Deg.. Jantungku berdegup kencang.. Aku melihat ada kilatan lendir yang menempel. Jariku cepat meraba.. Kembali.. Deg.. Benar.. Aku meraba lendir. Saat kuperhatikan nampak olehku gumpalan lendir macam putih telor.. Lebih lengket dan kental karena hampir mengering. Berarti peristiwanya belum lama.

Aku bisa pastikan ini peristiwa malam tadi. Sperma ini milik lelaki itu. Mungkin celana dalam itu untuk mengorek sperma yang menggumpal di lubang vagina istriku. Sperma yang ditumpahkan lelaki itu. Berkali-kali kuamati sampai aku yakin banget bahwa itu sperma. Sperma lelaki lain yang nempel di celana dalam istriku. Ah.. Kenapa kamu bisa begini Warnii..?!

Sekali lagi, kenyataan yang kutemukan itu semakin tidak membakar cemburuku. Bahkan penisku ngaceng menyaksikan sperma lelaki lain di celana dalam Warni ini. Bahkan pula, jari-jariku berusaha merasai benar-benar bagaimana lengketnya gumpalan sperma itu. Rasanya ingin dan sangat menyenangkan apabila aku bisa mendapatkan lebih banyak sperma lagi. Hidung dan matakupun berusaha menangkap citra sperma yang nempel celana dalam itu. Aku mencoba mendekatkan ke hidungku dan membauinya.

Kini aku dikejar oleh rasa penasaran. Bukan karena rasa cemburu. Penasaranku itu adalah rasa haus untuk menghadirkan khayalan bagaimana istriku menggigiti dada lelaki itu yang gempal berotot dengan penuh gairah. Bayangan Warni mendesak-desakkan pantatnya, sebagaimana yang dia lakukan padaku juga, yang tak sabar menunggu penis lelaki itu menembusi vaginanya. Dan bayangan Warni yang mendesah atau merintih saat menerima tusukkan penis Pak tua itu di kemaluannya. Aku ngaceng berat. Tanganku serasa ingin mengelusi penisku sambil meneruskan bayangan lelaki tua yang ngentoti istriku Warni.

Akhirnya aku perlu bersiasat. Aku persiapkan kemungkinan untuk mengintai kamar pengantinku. Aku pelajari situasi di luar kamarku. Aku mengambil bangku plastik bekas yang ringan dari gudang untuk pijakan berdiri mengintai dari kisi-kisi jendela kamarku itu. Aku samarkan adanya bangku itu di antara pot-pot tanaman hias yang terserak di luar jendela kamarku.

Untuk lebih meyakinkan Warni, dan juga cukup waktu untuk mereka berdua, Warni dan lelaki itu, untuk dirundung kerinduan saling bercumbu, pada malam pertama dan kedua kedatanganku aku benar-benar tinggal di rumah. Dan sebagaimana biasa saat sebagai suami istri kami menghabiskan waktu untuk berasyik masyuk menyalurkan syahwat birahi.

Pada pagi hari ke.3 aku bilang pada Warni istriku, bahwa aku menerima telpon dari nakhoda untuk memeriksa mesin, itulah tugasku di kapal, apakah perlu 'repair' selama menunggu bahan bakar. Mungkin aku mesti menginap di kapal untuk menyelesaikan tugasku itu. Dengan menampakkan seakan masih memendam rindunya, istriku melepas aku pergi. Dan aku pergi, tetapi bukan ke kapal.

Aku menyelinap masuk ke rumah Giman yang kebetulan lagi sendirian. Istri bersama anaknya lagi pulang mudik. Giman yang teman akrabku ini setuju akan membantu aku memata-matai ulah tingkah Warni istriku. Solidaritas tetangga, katanya. Aku menunggu hari gelap. Tunggu punya tunggu hingga pukul 10 malam tak ada orang yang datang ke rumahku. Dan aku yakin biasanya istriku sudah terlelap tidur. Dia termasuk orang yang tidak tahan melek.

Dan Giman yang sedianya akan membantu akupun telah tertidur di bangkunya. Nampaknya dia kelelahan dan tak tahan melek. Aku tak akan membangunkannya. Aku sendiri yang biasa terbiasa tidur tengah malam tetap membuka mata duduk di kegelapan beranda rumah Giman, mengawasi rumahku.

Tiba-tiba lampu depan rumahku.. Pet.. Mati. Pasti istriku yang mematikan lampu itu. Sekeliling rumahku jadi sepi. Aku jadi tegang. Kenapa? Adakah seseorang akan datang yang tidak boleh nampak oleh orang lain?

Ternyata aku tidak perlu menunggu jawaban terlalu lama. Sekitar 5 menit sesudah lampu dimatikan dari arah kanan, sekitar 50 m dari rumahku nampak seseorang berjalan dalam kegelapan. Yaa.. Seorang lelaki.

Dan tepat di pintu pagar rumah dia sesaat berhenti. Dia tengok kanan kiri untuk mengamati adakah orang lain yang melihatinya? Kemudian dia membuka pintu pagar dan bergegas masuk ke halaman rumah atau lebih tepat lagi menuju jendela kamar di mana adalah merupakan kamar pengantinku. Lelaki itu mengetok pelan. Mungkin sekitar 3 ketokan pada daun jendela itu.

Kemudian dia kembali bergegas ke pintu masuk rumah. Aku melotot tajam. Aku sangat tegang. Kuusahakan mataku tidak melepas pandangannya pada lelaki dan pintu itu. Tak sampai semenit nampak pintu itu terbuka. Yang nampak hanyalah lubang pintu yang gelap. Aku tak melihat istriku. Dia berada dalam kegelapan lubang pintu itu.

Dan dengan cepat lelaki itu menghilang dan pintunya kembali tertutup. Sepi kembali. Tetapi aku tidak sepi. Hatiku gemuruh sepertinya gelombang tzunami yang sedang menyerang pantai Larantuka dan melenyapkan pucuk-pucuk nyiurnya.


Ada semacam bara cemburu yang sangat merangsang hasrat birahiku. Bukan akan menghalangi percumbuan kedua insan ini. Kecemburuanku ini justru menginginkan 'pencurian nikmat syahwat' ini berlangsung sukses. Aku ingin, dan sangat ingin menyaksikan wajah istriku saat menerima nikmatnya sentuhan lelaki lain.

Aku ingin menyaksikan bagaimana Warni membuka pahanya yang putih indah itu 'ngangkang' menunggu penis lelaki itu mendekat ke vaginanya. Aku ingin bagaimana saat-saat penis lelaki itu menyentuh vaginanya. Duhh, duh.. Aku ngaceng berat, nih. Aku menunggu beberapa waktu sebelum aku mengendap memasuki halaman rumahku sendiri. Aku mencoba mendekat ke kamar pengantinku dan mendengarkan apa yang sedang terjadi.

Kupingku menangkap suara cekikikan istriku. Sepertinya dia menahan kegelian. Kemudian suara berat dari seorang lelaki yang terkesan penuh wibawa dan sangat melindungi,

"Ayoo, War.. sini. Jangan takut. Mas akan bantu supaya nggak terasa sakit" .. Hah..?
"Aku khan belum pernah, Mas. Lagian geli, gitu lho"
"Jangan khawatir, pelan-pelan saja kok. Biar kuludahi dulu agar licin"
"Ad.. Akhh.. Adduhh.. Pelan mass.. Hachh.. Aacchh..".
"Dikit lagii.. Huuchh.."
"Huucchh, ampuunn.. sudah Mass.. Jangaann.."

Edan.. Omongan itu membuat aku sangat tegang. Lagi diapain Warniku. Sepertinya dia menolak sesuatu yang disodorkan padanya tetapi membiarkannya sodoran itu jalan terus. Yang pasti bukan perkosaan atau jenis paksaan lainnya. Dan lelaki itu sepertinya sedang mengejar kenikmatan yang tak terhingga dari istriku,

"Ampuunn, Maass.. Enakk bangeett.. Dduh.. Sakiittnyaa.."

Sekali lagi edan.. Teriakan 'enak' dan 'sakit' datang bersamaan dan beruntun. Serta merta aku beranjak mengambil bangku plastik yang telah kusiapkan sebelumnya. Aku berdiri di atasnya dan melongok ke kisi-kisi jendela kamarku.

Hampir saja aku jatuh terguling begitu aku menyaksikan apa yang telah kusaksikan. Aku seakan kena pukul palu godam penghancur beton sebesar mesin giling. Aku melihat lelaki tua itu sedang menaiki pantat istriku. Mereka berdua bugil seperti anjing di musim kawin. Kusaksikan tubuh lelaki tua itu sangat seksi. Dadanya gempal dengan bukit-bukit otot buah dadanya. Puting susunya nampak menghitam. Demikian pula bagian tubuh lainnya yang penuh otot membuat lelaki itu nampak sangat jantan. Dia seperti seorang petarung yang selalu menang. Tetapi yang membuat aku hampir kelenger adalah penisnya. penis lelaki itu sungguh besar dan panjang luar biasa. Aku jadi ingat tongkat pemukul 'base ball'.

Maka kini lengkaplah seluruh bentuk ke-kalahan-ku. Tampilan keseluruhan lelaki itu benar-benar menempatkan aku menjadi pecundang total. Dan aku yakin bahwa selama 2 malam bersamaku, Warni tidak benar-benar memberikan perasaan maupun hatinya padaku lagi. Dia pasti hanya tertuju nikmat-nikmat syahwat yang berlimpah dari lelaki ini. Lelaki ini terlampau hebat bagiku.

Bahkan telah menjadi kenyataan, aku kini benar-benar ngaceng melihat sosoknya. Aku sangat kehausan untuk menerima kenikmatan bagaimana dikecilkan, disepelekan, diabaikan, dikalahkan, dihina, ditinggalkan. Bagaimana nikmat martabat dan harga diriku dihancurkan, diluluh lantakkan oleh lelaki yang sangat seksi ini. Dan nikmat itu benar-benar telah merambati sanubariku saat ini dimana seperti anjing kawin lelaki itu lagi asyik berusaha ngentot lubang pantatnya.

Penis itu sedang mendesak-desaki pantat Warni. Dan Warni yang suaranya terus meng-'aduh' campur meng-'enak' bukannya sedang cemas atau ketakutan. Justru tangannya nampak aktip mengarahkan penis gede itu ke lubang pantatnya. Kontan ngaceng penisku langsung mentok habis. Aku membayangkan seakan mulutku menjadi pantat Warni yang harus menerima sodokkan kemaluan gede lelaki itu. Aku merasakan sakit adanya jepitan dalam celanaku. Aku terpaksa melepaskan kancing celanaku dan membuka resleitingku. Aku melepaskan kemaluanku dari jepitan celanaku. Dan tanganku menyenggolinya agar rasa gatal birahiku tersalurkan.

Nampak penis lelaki itu semakin bisa diterima pantat Warni. Dengan kocokkan-kocokkan kecil gerbang atau katup anal Warni akan terkuak. Kulihat lelaki itu menggerakkan pantatnya maju mundur mendorongi kemaluannya. Dan di pihak lain, Warni menyongsongkan pantatnya untuk menjemputi kemaluan gede lelaki itu.

Beberapa saat kemudian, dengan rintihan sakit dan sekaligus desahan nikmat yang keluar dari bibir Warni, lelaki tua itu mulai leluasa mengayun-ayunkan pinggul dan pantatnya untuk mendorong dan menarik penisnya masuk dan keluar menembusi dubur istriku Warni. Kemudian aku melihat dia merubah posisinya. Tubuhnya rebah memeluki punggung istriku. Dia mencium dan melumati punggung dan tengkuk Warni sambil tangan-tangannya meraih dan meremas-remas buah dadanya.

Aku kini benar-benar melihat ekspresi wajah istriku. Wajah yang sedang mengarungi awang nikmat itu matanya setengah tertutup. Dia terkadang mendongak dan kemudian merunduk bagai mahkluk yang gelisah. Sesekali kepalanya menyibakkan rambut panjangnya dengan cepat. Dan rambut itu terlempar ke belakang menyapu kepala lelaki yang sedang memagut tengkuk atau punggungnya.

Pantat lelaki itu terus berayun penuh irama dengan sangat indahnya. Naik turun maju mundur, mengayun menggelombang seperti pantat zebra liar ditengah pelariannya saat dikejar sang 'predator' di padang Serengeti, Afrika. Bibir Warni terkadang menyeringai pedih, terkadang lain seperti senyum yang sarat nikmat. Makin jelas nampak olehku dua orang manusia ini sedang dalam perjalanan nikmat surgawi di anjungan syahwat birahi hewaniah mereka yang lepas dan liar.

Aku perhatikan seprei ranjang pengantiku telah teraduk berantakkan. Bantalku nampak terlempar ke lantai menindih busana istriku dan busana lelaki itu. Sepertinya para busana itupun sedang saling berasyik masyuk di mataku. Amppuunn..

Aku tak tahan lagi. Aku bukan cemburu atau sakit hati. Kini justru aku merasakan nikmat syahwat yang luar biasa. Menonton Warni yang demikian menampakkan nikmat dalam pompaan lelaki itu aku mendapatkan sensasi birahiku. Belum pernah kurasakan kenikmatan yang luar biasa macam kini. Membayangkan Warni melupakan aku yang suaminya mendorong tanganku dengan cepat mengelusi dan mengocokki kemaluanku. Aku semakin terangsang dengan adanya suara merintih atau mendesah dari istriku karena jejalan penis lelaki itu di lubang pantatnya. Tetapi ada yang bagai dinamit meledakkan nafsuku adalah saat kudengar pula suara lelaki itu,

"Ayoo, Warni, enakk nggaakk peniskuu?? Enakk?? Enak mana dengan penisku atau penis suamimu?? Ayyoo Warnii.. Ngomongg.. Enak mana penisku atau penis suamimu..??"

Dan belum juga Warni menyahut pertanyaan lelaki itu aku yang telah mendengarnya langsung bergetar.

Lututku langsung gemetar. Aku merasakan merinding dan darahku mendesir hebat. Aku merasakan semakin nikmatnya mengocok kemaluanku sendiri. Aku merasakan spermaku sudah teraduk dari kelenjarnya. Aku merasakan seakan spermaku akan terkuras habis saat mendengar omongan lelaki tadi. Aku menghadapi orgasmeku dengan hasrat nikmat yang belum pernah kualami. Aku berteriak tertahan sambil mataku terbeliak menyisakan warna putihnya.

Berdiriku oleng dan aku akan jatuh terjengkang. Pegangan tanganku pada kisi-kisi jendela itu luput. Dan kini aku benar-benar melayang ke arah belakang terjerembab jatuh ke tumpukan puing bekas bongkaran rumahku. Entah terluka atau tidak aku tak lagi merasakannya. Aku cepat beringsut ke kegelapan, khawatir suara jatuhku membuat yang di dalam kamar pengantinku mendengar dan mencari sumber suaranya. Aku tetap terus mengocok penisku. Nikmat ini harus kukejar dan selesaikan hingga puncak syahwatku itu tumbang. Dalam keadaan terguling ke bebatuan dan akhirnya tersungkur ke tanah spermaku muncrat-muncrat. Aku benar-benar meraih kepuasan nafsu birahiku. Aku terseok kemudian bersandar ketembok dan terkulai.

Aku yakin mereka, lelaki tua itu dan istriku Warni terlampau asyik menimba nikmat yang sedang mereka rengkuh sehingga sama sekali tak mendengar suara aku jatuh terjerembab. Bahkan saat aku telah terkuras tenagaku berkat spermaku yang tumpah ruah mereka belum juga usai berayun-ayun. Suara-suara desah dan rintih mereka semakin cepat saling bersahutan.

Aku masih perlu waktu untuk mengembalikan hasrat seksualku. Biarlah aku mendengarkan saja suara-suara itu hingga iramanya terdengar semakin tak terkendali. Itu pertanda bahwa mereka kini sedang menapaki puncak syahwatnya. Tetapi akhirnya aku tergelitik untuk kembali mengintip. Aku betulkan letak bangkuku kembali. Kali ini aku jaga dari kemungkinan terguling kembali. Dengan hati-hati aku menaiki kursiku dan tanganku berpegang kuat pada kisis-kisi jendelaku. Aku lihat tubuh istriku basah mengkilat oleh keringatnya. Demikian pula lelaki itu. Tubuhnya nampak dialiri keringatnya yang menderas. Wajahnya setiap kali disapunya agar matanya tidak pedih tertutup keringatnya.

Kini mereka benar-benar sedang berpacu dengan hasrat birahinya yang meledak-ledak. Kepala istriku yang bergoyang mengibas-ibaskan rambutnya telah nyata dalam keadaan setengah sadar. Dia sedang terbang di samudra nikmat tak terhingga. Dia akan melupakan berbagai hal. Dan tak mungkin secuilpun mengingat aku. Kenikmatan itu benar-benar telah merampas kesadarannya.

Rasa panas atau pedas pada lubang duburnya tak lagi menjadi kendala. Pacuan itu mendekati garis finalnya. penis lelaki itu terus menggojlok-gojlok meruyaki lubang analnya. Dinding anus Warni mungkin sedang meremas-remas batang penis lelaki itu. Hingga..

Datanglah puncak nikmat mereka. Lelaki itu menyambar rambut istriku dan menjadikannya tali kekang. Dia menghela istriku bagai kuda tunggangannya. Dia berteriak dan mendesis. penisnya menyemburkan cairan panas yang sangat kental ke dalam lubang anus Warni. Bertubi-tubi puncratan sperma yang didahului kedutan urat-uratnya menyemprot dari lubang penisnya.

Secara bersamaan keduanya tumbang dan rubuh ke ranjang. Tetapi seperti anjing kawin pula, kemaluan lelaki itu tidak lepas dari lubang anal Warni. Dan dalam posisi saling diam mereka sepertinya mempertahankan penis yang terbenam dalam anus itu. Dari arah belakang lelaki itu justru mempererat rangkulannya, dan sebaliknya Warni juga semakin memegang lengan berotot lelaki itu. Adegan diam itu berlangsung seperti sebuah 'pantomime'. Berlangsung bermenit-menit.

Kemudian aku mulai melihat si lelaki bergerak. Dia memajukan mukanya untuk bisa mencium Warni. Dan dengan refleksnya Warni menyambut. Dalam keadaan 'gancet' dimana tubuh yang satu lengket pada tubuh lainnya, mereka berlumatan bibir. Bibir-bibir Warni membuka dan mengatup merespon bibir-bibir lelaki itu. Mereka meludahi dan diludahi. Mereka saling menikmati dan meminum ludah lawannya. Warni menelan dengan setengah menutup matanya.

Dengan cara itu rupanya mereka ingin memulai kembali permainan syahwatnya. Mereka ingin mengulang ledakkan nikmat yang didapatkan sebelumnya. Mereka kini ber-ancang-ancang memasuki ettape lanjutan. Ciuman mereka berkembang semakin panas. Mulut lelaki itu mulai turun merambahkan ciumannya ke dagu Warni. Aku mendengar desahan tertahan dari mulut Warni.

Aku juga melihat penis lelaki itu melepas dari lubang anus dan Warni berbalik hingga mereka menjadi saling berhadapan. Bibir lelaki itu mengejar gundukkan payu dara Warni. Bibir yang menggigit dengan gemas membuat Warni bergelinjangan meliak-liukkan tubuhnya bak ular kobra dalam tangkapan.

Berikutnya adalah Warni yang ganti mematuk. Dia menghunjamkan ciumannya ke leher lelaki itu. Dia juga menggigit-gigit kecil dan menarik bibirnya turun melata dari leher menuju ke dadanya. Otot-otot gempal lelaki itu menjadi sasaran hasrat birahi istriku. Dia menggigit penuh dendam gumpalan otot buah dada lelaki tua itu.

Warni menjadi sangat menikmati saat merasakan betapa lelaki itu menggelinjang dan mengaduh nikmat. Warni jadi mem-buas. Tangannya menggapai bagian-bagian tubuh lelaki itu dengan sangat liarnya. Dia raih apapun yang menonjol pada tubuh lelaki itu. Tangannya meremas, mencengkeram dan terkadang juga mencakar.


Ciuman Warni terus turun ke perut. Godaan hasratku bangkit menyaksikan otot perut lelaki tua itu. Demikian kencang dan sangat serasi tampilannya. Aku iri dengan bentuk perut indah macam itu. Betapa nikmat selusuran bibir Warni merambahi perut lelaki itu.

Rasa iriku ini mendorong nafsuku untuk ikut menciuminya. Yaa, aku demikian ingin menciumi tubuh lelaki yang jelas-jelas telah menggeluti dan menumpahkan spermanya ke tubuh istriku sendiri. Aku dilanda sensasi erotis yang membuat orientasi seksualku tiba-tiba bergeser. Aku yang seharusnya melawannya malahan kini menjadi menikmati syahwat dari kekalahanku. Aku berubah menjadi pemuja penaklukku. Aku ingin menggantikan peranan Warni. Aku membayangkan aku sebagai Warni yang sedang menciumi otot-otot gempal lelaki yang bukan suamiku. Aku menjadi sangat kehausan.

Tenggorokanku terasa sangat kering. Dan rasanya obatnya hanyalah menyaksikan sperma lelaki itu tumpah di mulut istriku dengan bayangan syahwat yang membuat seakan sperma itu tumpah di mulutku. Tampak Warni tak melewati seinchipun ciuman dan bahkan kini juga jilatannya pada perut lelaki itu. Dan aliran bibir dan lidah Warni alur selanjutnya sudah kubayangkan. Pasti ciuman dan jilatannya akan meluncur ke arah kemaluan lelaki itu. Dan itu terjadi.

Warni memang type perempuan penikmat syhawat sejati. Lihatlah, tangannya yang penuh perasaan dan peka dia merintis dengan rabaan-nya merambah ke wilayah kemaluan lelaki itu. Dan kini bibir Warni 'napak tilas' mengikuti alur rintisan tangannya. Lidah dan bibir Warni menapaki jalur jari-jarinya untuk mencium dan menjilati batang kemaluan lelaki itu. Seperti si buta dengan tongkatnya. Jari-jari Warni menjadi pedoman bibir dan lidahnya dalam upaya melumat 'tongkat base ball' milik lelaki itu. Dan kini jari-jarinya sedang mengelusi batang tegar kaku serta hangat penuh otot itu untuk menuntun jalan jilatan dan lumatan lidahnya.

Dan ketika bibir dan lidah Warni menyentuh kemudian menciumi dan menjilati batang penis itu, si lelaki tua mendesis. Kenikmatan erotis yang sungguh luar biasa telah menimpanya. Tangannya yang kekar penuh otot merampas rambut-rambut Warni dan memerasinya. Dia menebar rasa pedih pada kulit kepala istriku. Dia ingin mendengarkan rintihan sakit yang nikmat dari mulut Warni. Saat dia benar mendengar rintih dan jerit sakit Warni, tangannya menekan keras kepala istriku. Dia tunjukkan keinginan hewaniahnya. penisnya dijebloskan lebih dalam ke mulut Warni. Dia ingin istriku melumati penisnya.

Tak lama kemudian kusaksikan lelaki itu cepat berbalik. Dia dorong Warni untuk telentang. Lelaki tua itu bergerak setengah berdiri untuk melangkahkan pahanya dan meng-angkangi dada istriku. Masih dalam remasan tangannya rambut Warni ditekankannya ke bantal sehingga kepala Warni terdongak dengan bibir yang setengah menganga. Pada saat itulah kangkangan lelaki itu bergeser maju. penisnya kembali disorongkan ke mulut istriku agar dilahapnya. Dan istriku cepat me-respon. Kini aku menyaksikan kembali gerakan mengayun. Dengan penisnya yang gede panjang lelaki itu ngentot mulut istriku Warni.

Seperti bayi yang berangkang dengan selangkangannya pas diatas wajah lelaki itu berayun naik turun memompa mulut istriku. penisnya keluar masuk menembusi bibir indah Warni. Nampak pipi Warni menjadi penuh seperti anak rakus yang menjejalkan seluruh kuenya masuk kemulutnya. Mulailah kedua mahkluk ini saling mengayuh, yang satu jemput dengan mulutnya dan yang lain antar penisnya.

Ucchh.. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan..

Aku mengakui stamina hasrat seksual kedua orang ini. Belum lama mereka telah menumpahkan hampir semua energinya saat menjemput orgasmenya tadi, kini mereka telah kembali ke arena pacu untuk kembali melampiaskan syhawat birahinya. Aku yakin puncak nikmat ke dua segera menyusul.

Aku sendiri sepertinya kena sihir. Apa yang istriku lakukan bersama lelaki itu telah meng-eksplorasi seluruh cadangan energiku. Aku telah pulih dan langsung bergairah untuk kembali melakukan eksplorasi pada kemaluanku. Tanganku mengelusi, mengocok-ocok, menjepit atau mencubiti penisku yang tak seberapa besar ini. Aku mencoba merasakan setiap elusan atau kocokkan tanganku sejauh bisa merangsang libidoku. Apa yang kini tampak di depan mataku mendorong habis hasrat birahiku. Aku mempercepat kocokkanku seiring dengan percepatan kuluman dan pompaan penis lelaki itu pada mulut istriku.

Kini aku merasakan kembali nikmatnya tanganku mengocok sendiri kemaluanku. Saraf-saraf peka baik yang langsung tersentuh elusan atau kocokkan tanganku maupun yang cukup tersentuh oleh khayalan syahwat ku telah berhasil merangsang kantong spermaku untuk memompakan simpanannya. Kini tak bisa kuhindari, aku merasakan spermaku merambati jaringan pipa-pipanya untuk selekasnya bisa menyembur keluar dari penisku. Yang membuat aku menjadi sangat terbakar adalah datangnya khayalanku yang bisa melahirkan sensasi baru bagi dorongan syahwatku.

Aku membayangkan betapa aku menjadi Warni yang kini sedang dijejali batangan panas gede dan panjang milik lelaki itu. Aku membayangkan tak lama lagi cairan kental panas akan luber muncrat memenuhi mulutku. Aku sudah membayangkan rasa asin, gurih, lengket atau kenyal-kenyal sperma lelaki itu di mulutku. Yang kemudian mengalir memasuki tenggorokanku.

Rambatan itu demikian gatal dan nikmatnya. Dengan paduan penuh irama tanganku yang mengelus, mengocok dan mejit-pijit aku sedang memasuki ambang orgasmeku. Aku semakin melototkan kepalaku ke arah wajah istriku. Kulihat pompaan penis lelaki itu mengayun semakin cepat dan semakin cepat.. Cepat.. Cepat..

Woowww.. Ayyoo.. Warnii.. Hohh.. Hohh.. Hohh.. Wajah lelaki itu.. Wajah ituu..

Aku kembali melayang.. Gelapnya malam serasa berputar.. Bayangan lampu jalusi nampak bergoyang seperti jendela kapalku. Kembali tanganku di jalusi itu lepas. Kembali aku terayun limbung. Kakiku tak mampu berpijak tegak. Bangku plastikku lepas dari injakanku. Amppuunn.. Aku tak mampu melepaskan kocokkan tanganku..

Spermaku muncrat tepat saat aku oleng dan melayang jatuh terguling ke tumpukkan puing bongkaran rumahku. Sementara itu sayup-sayup kudengar pula suara lelaki dan perempuan yang seperti sedang meregang jiwa dari kamar pengantinku. Rupanya pada saat yang bersamaan aku dan mereka sama-sama dilanda gegap orgasme.

Tanganku masih terus menggerakkan kocokkannya untuk memperpanjang nikmat orgasme dengan berusaha menangkapi suara-suara erotis dari istriku bersama lelaki itu. Dan hasilnya adalah hadirnya orgasme beruntunku. Desahanku serasa tak pernah henti. Dalam keadaan terjerembab ke tumpukan puing itu aku terus mendesah dan mendesis mengiringi denyutan muntah spermaku. Entah apa yang terjadi, rasanya spermaku terus muntah tak mau berhenti.

Pelan-pelan aku bergeser ke kegelapan di balik pot-pot tanaman hias. Aku tunggu beberapa saat kemungkinan yang berada dalam kamar mendengar suara jatuh dan menengok keluar jendela. Ternyata tak ada yang memperhatikan jatuhku. Rupanya mereka begitu asyik dalam jebakan nikmat syahwatnya. Mereka tetap tidak mendengar suara yang cukup gaduh karena tubuhku yang terjengkang ke puing ini. Aku sendiri sudah nggak lagi tahu, apakah aku terluka atau tidak.

Aku masih tetap ingin menuntaskan keingin tahuanku. Sejauh mana dan apa yang diperbuat Warni istriku bersama lelaki itu dalam kamar pengantinku. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku terseok bangun dari tumpukan puing di luar jendela kamarku. Walaupun tubuhku terasa ngilu dan pedih aku tetap berusaha mengatur bangku plastik untuk kembali ke lubang kisi-kisi jendela.

Kulihat betapa Warni yang memang betul-betul perempuan penuh haus syahwat ketemu dengan lelaki yang memiliki kekuatan untuk melayaninya. Dalam telanjang bugilnya dan coreng moreng wajahnya sperma di seputar mukanya istriku menindih dan memagut bibir lelaki itu. Nampak sesekali mengangkat wajahnya untuk melihati wajah lawannya kemudian kembali memagut bibir dan mengelus-elusi rambut lelaki itu.

Ooo.. Rupanya Warni masih menuntut agar vaginanya mendapatkan giliran penis lelaki itu. Nampak kini tangan kanannya turun untuk mengelusi kemaluan lelaki itu. Dan nampak banget olehku betapa Warni begitu 'keranjingan' pada penis gede panjang milik lelaki itu. Kusaksikan lembutnya tangan Warni demikian bertolak belakang dengan kasar otot-otot kemaluan lelaki itu. Dan tangan lembut itu memeras, memijit dan mengelusi batang yang kekar dan kasar itu. Sungguh sebuah 'kontrastistik erotisme' yang sangat indahnya.

Tak diragukan lagi, kedua insan ini langsung memasuki keadaan yang memanas penuh atmosfir birahi. Warni dan lelaki itu siap untuk menempuh pergulatan barunya. Mereka memasuki ettape ke.3-nya menuju puncak syahwat berikutnya. Dan yang terjadi kemudian kendali di atas ranjang itu beralih ke sang lelaki itu. Dia mendorong telentang kembali tubuh Warni. Dia raih tubuh itu pada tungkai kakinya menuju pinggiran ranjang.

Tepat saat bokong Warni menyentuh tepiannya, lelaki itu mengangkat tungkai kiri Warni untuk dipanggul ke bahunya sementara tungkai lainnya menjuntai ke lantai. Selanjutnya yang terlihat adalah penis lelaki itu dengan pasti diarah tuntunkan ke vagina istriku yang sudah demikian menantinya.

Semuanya berjalan begitu mengalir, seakan hal demikian sudah merupakan ritual rutin dalam pertemuan-pertemuan mereka. Butuh beberapa detik untuk lelaki itu mendesakkan kemaluannya ke vagina Warni. Aku melihat betapa kepalanya penis yang demikian bulat dan berkilatan menekan bibir vagina Warni hingga terbawa melesak ke dalam. Dan betapa desis nikmat langsung terbit dari mulut istriku mengiringi amblasnya penis ke dalam lubang kemaluannya.

Yang kusaksikan melalui kisi-kisi jendelaku ini menjadi 'gong' dari perselingkuhan istriku dengan lelaki itu. Dalam posisi begini kulihat mereka lebih 'profesional' dalam saling mengayun. Irama sodokkan penis dan lahapan bibir vagina yang teriringi oleh desah dan rintihan bertalu-talu dari pasangan selingkuh itu. Wajah lelaki yang begitu nikmat merasai lubang sempit vagina istriku, atau wajah istriku yang begitu hanyut dalam pusaran nafsu birahinya merasai batang tegar gede panjang milik lelaki yang bukan suaminya itu benar-benar sesuatu yang nyata telah kuhadapi.

Dan tak aku pungkiri, aku menikmati ke-selingkuhan istriku. Aku menikmati bayanganku yang mengajak orientasi seksualku untuk bergeser ikut menjilati atau melahap tubuh lelaki itu. Aku merindukan peristiwa ini berulang dan aku bisa menyaksikannya lagi.

Goyang dan ayun Warni bersama lelaki itu sampai pada puncaknya saat tiba-tiba istriku bangkit dan tangannya merenggut gumpalan dada lelaki itu. Kulihat cakarnya terhunjam pada daging dadanya yang menghasilkan alur luka yang panjang berdarah. Itulah puncak orgasme Warni yang buas dan liar. Nafsu hewaniahnya yang tak pernah dia perlihatkan padaku.

Ketika segalanya telah usai, sementara ketelanjangan dalam kamar pengantinku belum juga berakhir, lelaki itu mengambil sepotong kain berwarna terang dan lembut yang terserak di lantai. Sementara Warni istriku telentang kelelahan di ranjang, dengan sabar lelaki itu menge-lap sperma dia yang tercecer pada tubuh istriku dengan celana dalam istriku yang ada di tangannya.

Dia menge-lap spermanya yang meleleh dari lubang dubur, dari lubang vagina serta di seputar selangkangannya dan juga yang terserak di dagu, pipi, leher serta buah dada istriku. Kuperhatikan pula saat celana dalam istriku dia lemparkan kembali ke lantai. Aku tak lagi menyangsikan cerita Giman. Tetapi aku hari ini bukan lagi aku kemarin lusa yang seorang suami baru turun dari kapalnya. Aku sekarang adalah lelaki yang menikmati istrinya mendapatkan nikmat syahwat dari lelaki lain.

Lelaki itu pulang sangat dini hari. Mungkin sekitar pukul 4.30 pagi. Mungkin istriku mengingatkan kemungkinan aku suaminya pulang pagi ini.

Dan aku memang pulang pagi ini. Aku telah berdiri di ambang pintu rumahku jam 7.30 pagi. Istriku menyambut aku dengan penuh rindu. Dia sedang bersiap untuk belanja ke pasar. Dia bertanya padaku ingin masakan apa untuk makan siang nanti. Aku serahkan saja padanya. Dia toh tahu kesukaanku. Aku hanya berharap Warni lekas berangkat ke pasar. Aku sudah tak sabar untuk memasuki kamar mandi.

Aku menemukan apa yang sangat ingin kutemukan pagi itu. Celana dalam istriku yang berwarna terang dan lembut nampak berada di gantungan kamar mandi. Tanganku meraihnya dan jari-jariku merabainya hingga kutemukan gumpalan lengket itu. Kini aku tak lagi sekedar menciumnya. Aku mempersiapkan seluruh diriku. Celana dalam itu kuamati lebih cermat. Kupandangi dimana saja gumpalan-gumpalan lengket nempel pada celana dalam itu. Kemudian aku memulai apa yang sangat aku rindukan. Aku dekatkan celana dalam itu kemulutku. Aku mulai melahap. Aku lumat-lumat celana itu pada gumpalan lengketnya. Aku merasai sperma dingin yang sangat kental larut dalam mulutku. Aku meyakini sedang mengunyah dan akan menelan sperma milik lelaki teman selingkuh Warni istriku.

Aku mendapatkan nikmat orgasmeku tanpa tanganku menyentuh apalagi mengocok penisku. Air maniku muncrat-muncrat saat sperma lelaki itu mulai mengaliri tenggorokanku.

TAMAT

Jumat, 17 Mei 2013

List Kumpulan ABG Tante Hot dan Seksi Indonesia

kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia


List tentang abg bugil atau tante hot di Indonesia memang banyak sekali dicari, ada beberapa keyword tertentu yang bisa dimasukkan kedalam google pencarian..
dibawah ini admin berikan beberapa keyword tentang kumpulan abg nude bugil, tante hot, ataupun model nude indonesia.


list pencarian untuk foto foto bugil indonesia

kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia

kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia

kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia
 
kumpulan model nude Indonesia
kumpulan foto hot abg indonesia
abg bugil
cewek seksi
jablai hot dan seksi
abg lesbi
anak bandung hot
abg indo seksi bugil
foto hot tante bugil
janda sange
janda hot banget
anak bandung bugil
anak jakarta bugil dan seksi
anak surabaya bercinta
foto hot sarah ardhelia
abg sange
tante hot terbaru
abg bugil terbaru
janda muda
cewek cantik buka baju
cewek bahenol sange
biduan hot dan seksi
janda kembang sexy dan hot
abg galau bugil

pencarian video hot Indonesia


kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia
download 3gp gratis terbaru
bokep 3gp
bokepgratis
bokep gratis
cara gampang download video bokep
bokep indonesia terbaru
skandal mahasiswa indonesia
skandal anak smp
video bokep anak sma
bokep janda sange
indobokep
bokep janda kembang
video hot para model indonesia
skandal pns indonesia

pencarian untuk cerita dewasa


cerita dewasa gratis terbaru
cerita porno terbaru 2013
cerita dewasa tante
cerita dewasa gangbang
cerita porno lesbi
cerita hot abg sange
cerita yang bikin sange
cerita 18+
cerita bokep gratis
artikel dewasa

pencarian tentang dunia dewasa


cara membuat wanita orgasme
cara memperbesar penis gratis
cara merawat payudara
cara onani yang baik dan benar
cara bercinta yang baik dan benar
posisi bercinta ala cina
cara membuat obat kuat sendiri

itulah beberapa pencarian yang sering muncul di google yang bisa dijadikan acuan untuk anda dalam mencari kepuasan tersendiri di dunia internet.




Rabu, 01 Mei 2013

List Kumpulan ABG Tante Hot dan Seksi Indonesia

kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia


List tentang abg bugil atau tante hot di Indonesia memang banyak sekali dicari, ada beberapa keyword tertentu yang bisa dimasukkan kedalam google pencarian..
dibawah ini admin berikan beberapa keyword tentang kumpulan abg nude bugil, tante hot, ataupun model nude indonesia.


list pencarian untuk foto foto bugil indonesia

kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia

kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia

kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia
 
kumpulan model nude Indonesia
kumpulan foto hot abg indonesia
abg bugil
cewek seksi
jablai hot dan seksi
abg lesbi
anak bandung hot
abg indo seksi bugil
foto hot tante bugil
janda sange
janda hot banget
anak bandung bugil
anak jakarta bugil dan seksi
anak surabaya bercinta
foto hot sarah ardhelia
abg sange
tante hot terbaru
abg bugil terbaru
janda muda
cewek cantik buka baju
cewek bahenol sange
biduan hot dan seksi
janda kembang sexy dan hot
abg galau bugil

pencarian video hot Indonesia


kumpulan foto,cerita dewasa,video bokep gratis Indonesia
download 3gp gratis terbaru
bokep 3gp
bokepgratis
bokep gratis
cara gampang download video bokep
bokep indonesia terbaru
skandal mahasiswa indonesia
skandal anak smp
video bokep anak sma
bokep janda sange
indobokep
bokep janda kembang
video hot para model indonesia
skandal pns indonesia

pencarian untuk cerita dewasa


cerita dewasa gratis terbaru
cerita porno terbaru 2013
cerita dewasa tante
cerita dewasa gangbang
cerita porno lesbi
cerita hot abg sange
cerita yang bikin sange
cerita 18+
cerita bokep gratis
artikel dewasa

pencarian tentang dunia dewasa


cara membuat wanita orgasme
cara memperbesar penis gratis
cara merawat payudara
cara onani yang baik dan benar
cara bercinta yang baik dan benar
posisi bercinta ala cina
cara membuat obat kuat sendiri

itulah beberapa pencarian yang sering muncul di google yang bisa dijadikan acuan untuk anda dalam mencari kepuasan tersendiri di dunia internet.




Selasa, 02 April 2013

Cerita Dewasa - Pembalasan Berbuah Nikmat

Pembalasan Berbuah Nikmat  ~ Aku duduk termenung di sebuah kursi panjang bandara. Aku diminta menemani bos Herman menjemput seseorang temannya. Herman berada di depan pintu, mondar-mandir seperti tak sabaran. Entah siapa yang akan kami jemput, Herman tak menceritakannya, sepertinya ini adalah orang penting baginya.


Tak lama menunggu pesawat pun akhirnya sampai, Herman semakin tidak sabaran, ia selalu memandang ke arah pintu. Aku pun mendekati Herman ketika para penumpang telah keluar dari pintu. "Nes!" teriak Herman ke arah rombongan penumpang yang keluar. Seorang perempuan kira-kira berumur 25tahunan berparas cantik datang mendekati Herman. Mereka langsung berpelukan, membuatku penasaran siapakah perempuan ini. "Man...", sapaan akrab bos Herman kepadaku, karena namaku Satorman. "Ini Agnes, teman SMP saya...", Herman memperkenalkan perempuan itu kepadaku. Baru ku ingat memang dulu Herman pernah cerita mengenai masa lalunya, nama perempuan itu adalah Agnes Monica, teman SMP yang pernah Herman perkosa bergiliran hanya karena sebuah pelampiasan kekecewaan. "Ini anaknya, Chelsea Olivia...", Herman juga menunjukkan anak perempuan yang dibawa Agnes, mungkin umurnya sekitar 7 tahunan. Mukanya mirip dengan ibunya, putih dan oriental.

"Biar saya bawa saja mbak...", aku menawarkan bantuan untuk membawakan tas Agnes. "Panggil Agnes saja...", balas Agnes sambil menyodorkan tas bawaannya. Kami pun segera menuju mobil. Herman dan Agnes terlihat akrab sekali, bahkan Herman menggendong Chelsea layaknya ayah menggendong anaknya. Dalam perjalanan mereka pun terus bercerita, ternyata sebelumnya Herman pergi ke Singapura bukan untuk liburan, melainkan untuk menemui Agnes. Dan ternyatanya lagi, sejak hadirnya Herman di sana, Agnes malah banyak mengalami masalah, ia harus bercerai dengan suaminya dan pulang ke Indonesia.

Aku ingat cerita Herman dahulu kala, Agnes pernah dijodohkan dengan seorang pria kaya, sehingga memicu api cemburu Herman. Dan semua itu membutakan Herman, ia bersama teman-temannya, kalau tidak salah bersama Tono, Eko, Budi, Marwan dan Iskandar, mereka semua mengeroyok pria yang akan dijodohkan dengan Agnes itu. Selain itu, mereka juga menculik Agnes lalu diperkosa secara bergiliran. Bukan hanya itu, hanya karena perjodohan, watak Herman menjadi rusak, menjadi perokok dan peminum. Yang ujung-ujungnya, Agnes harus meninggalkan Indonesia untuk melupakan masa kelamnya.

Aku terkejut karena tiba-tiba mobil yang aku kendarai oleng. Apalagi sedari tadi aku memikirkan kisah Herman yang membuatku tidak begitu konsen di jalan. "Ada apa man?", tanya bos Herman yang duduk di belakang bersama Agnes dan Chelsea. "Ga tau bos, kayaknya kempes...", aku pun menepikan mobil.

"Sial, ban bocor bos kena paku...", aku menyampaikannya kepada Herman, ia pun keluar untuk melihat. "Waduh, mana jalanan sini sepi...", kata Herman. "Biar gue telpon yang lain untuk jemput saja bos...", saranku. Tapi belum sempat mengambil hp di saku celanaku, sebuah mobil box menghampiri kami. Dua orang keluar dari mobil box itu sambil membawa senjata api. "Ayo ikut!!", perintah mereka sambil mengarahkan senjata api mereka. Yang satunya pun membuka pintu mobil dan menyeret Agnes dan Chelsea keluar dari mobil. Mungkin paku yang menusuk ban juga adalah ulah mereka yang sudah terencana.

"Mau apa kalian?!", teriak Herman mencoba melawan. 'BUKK' pukulan keras ke pipi Herman dengan menggunakan gagang senjata api. Aku tidak berani melawan selain tubuh dua orang itu yang besar berotot dan membawa senjata api, aku juga khawatir keselamatan Herman, Agnes dan Chelsea. Kami pun dipaksa naik ke dalam box, bau sekali dan pengap, walaupun box isinya kosong, tapi sepertinya sering digunakan untuk mengantar entah barang apa.

Pintu box pun ditutup. Herman mencoba menenangkan Agnes dan Chelsea yang mulai ketakutan dan menangis. "Hp tertinggal di tas...", kata Agnes yang ingin menghubungi bantuan. Untung saja hp ku selalu taruh di saku celana. "Biar gue telpon yang lain...", kataku. Keadaan box sangat gelap, nyala hp menjadi satu-satunya penerangan di sini. "Ton, kami diculik... Ga tau mau dibawa ke mana... Mobil box warna kuning...", belum selesai berbicara dengan Tono melalui hp, tiba-tiba sambungan terputus. "Damn! Pulsa habis...", aku kesal sambil membanting hp. Herman pun sudah mulai gelisa. Ia mendekati pintu box, memukul-mukul dan berteriak.

Percuma saja yang dilakukan Herman, mobil box malah bergoyang-goyang kuat, sepertinya sopir itu membawanya dengan kecepatan tinggi. Aku dan Herman pun kemudian menyusun rencana, untuk melawan ketika pintu box di buka. Agnes dan Chelsea juga disuruh bersiap-siap agar bisa segera kabur bila kami berhasil melumpuhkan dua pria besar itu.

Mobil box pun terasa melambat, sepertinya sudah mendekati tujuan, padahal sudah hampir sejam-an kami menunggu. Saat pintu dibuka, astaga, sangat terkejut sejali dengab sambutan dibalik pintu box. Kaki ku serasa kaku tak mampu bergerak melihat belasan orang berbadan kekar mengarahkan senjata api dari luar sana sehingga tak mungkin bagi kami untuk melawan. Agnes dan Chelsea pun kemudian menangis dengan kencang melihat keadaan seperti ini.

Entah siapa mereka dan apa tujuan mereka menculik kami. Kami pun kemudian diseret keluar dari box dan dibawa ke sebuah ruangan yang gelap dan penuh dengan kotak-kotak kayu. Kami semua diikat secara terpisah. Kemudian orang-orang berbadan besar itu pun keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun. Aku lihat Herman juga tidak berkutik, kami diikat dengan kuat di tiang-tiang dekat dinding.

"TOOLLLOOOONNNNGGGGGG........", teriak Agnes mencoba mencari bantuan, siapa tahu ada yang mendengarnya. Namun sepertinya usaha Agnes percuma saja, ruangan ini tertutup sangat rapat, sehingga menjadi kedap suara. Chelsea malah menangis hingga pingsan. Agnes melihat keadaan adaknya menjadi terdiam dan kemudian kembali menangis.

Tak lama dari itu pintu terbuka, sebuah sosok pria masuk ke dalam ruangan, kucoba liat dengan jelas, tapi aku tidak mengenalinya. "Aleexxx......", seru Herman terkejut melihat sosok pria itu. "Apa mau mu Lex?!", sambung teriakan Agnes. "Hahahaha, akhirnya kita reunian juga ya... Sudah bertahun-tahun aku menunggu kesempatan ini...", kata Alex. Ia berjalan mendekati Herman, ku lihat sebenarnya wajah Alex ganteng sekalu, kulit putih oriental pun menambah nilai plus, hanya disayangkan ada goresan di pipinya seperti di film kartun samurai x. "Ingat dengan goresan ini?...", tanya Alex kepada Herman sambil menunjukkan goresan di pipinya itu. Belum sempat menjawab, Herman langsung ditinju di perutnya, "Arghhh....".

Alex kemudian membuka pakaiannya, seluruh tubuhnya penuh goresan, apa ini juga akibat dari perbuatan Herman? Sungguh kejam sekali masa lalu Herman. "Lihat! Semua yang terbekas olehmu!!!" teriak Alex yang kemudian langsung menendang Herman. Ia membuka seluruh pakaiannya hingga bugil. "Gara-gara kalian, aku menghabiskan hidupku di lembah kelam... Bergaul dengan penjahat agar suatu hari datang kesempatan seperti ini...". Aku sangat terkejut, padahal ceritanya dulu Alex adalah orang yang berpendidikan, hanya karena perbuatan tidak menyenangkan, telah membuatnya berubah 180 derajat. Kulihat Herman meneteskan air mata, sepertinya ia sangat menyesali perbuatannya.

"Maafin aku Lex...", Herman meminta maaf pada Alex. "Hahaha, maaf?"... 'BUKK' sekali lagi Herman mendapatkan tinjuan namun kali ini mengarah ke wajahnya. "Kau pikir maaf itu bisa memperbaiki semua? Mengembalikan masa laluku? Mengembalikan keadaan tubuhku? Hahahah...", Alex lalu tertawa terbahak-bahak. Darah terlihat menetes keluar dari mulut Herman. "Kau boleh balas aku, tapi tolong lepasin mereka...", pinta Herman. "Hahaha, aku sudah terlanjur begini... Kenapa harus berbaik hati?...", jawab Alex.
Alex kemudian mendekati Agnes, "Hallo, mantan calon istriku...", sambil memegang dagu Agnes. "Tolong lepasin kami Lex...", Agnes memohon sambil meneteskan air mata. "Hahaha, semudah itu kah memohon padaku?", balas Alex dengan raut wajah sedikit kesal. "LEX!!! Gue bakal kasih lu duit berapa pun yang lu mau!" teriak Herman mencoba menawar. "Hey, gue gak perlu duit lu, BEGO!", jawab Alex ketus. "Lepasin kami Lex...", Agnes kembali memohon. Sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku tidak tahu harus berbuat apa, ini permasalahan antara mereka, tapi seharusnya aku membantu Herman, namun dengan kondisi terikat begini, sama juga sia-sia kalau aku berontak. Apalagi aku tahu perasaan Alex bagaimana, tubuhnya yang telah ditorehkan bekas-bekas yang tidak akan hilang untuk selamanya itu, tentunya akan diingatnya hingga akhir hayat.

Muka Alex mendekati muka Agnes, ia terlihat menciumi aroma wajah Agnes yang harum. Tubuhnya yang sudah bugil menunjukkan penisnya yang mengeras. "Hmm, harum sekali kamu Nes... Jadi ingin ku kentot...", dengan senyum yang bringas kemudian Alex berusaha menciumi Agnes. "BAJINGAN KAU LEX!!!" teriak Herman sekuat tenaga, tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh Alex. Ia terus menciumi kening, pipi, leher, dan bibir Agnes yang tak bisa berontak karena terikat.

Herman terus berteriak mencaci maki Alex, tapi Alex malah semakin brutal menciumi Agnes, ia pun memberikan cupangan di leher Agnes hingga memerah. "Aku akan bunuh anakmu kalau kamu tidak melayaniku!", ancam Alex kepada Agnes sambil melihat ke arah Chelsea Olivia yang tengah tertidur. Agnes hanya menangis tak bisa menjawab, Herman pun kemudian kembali memohon, "Lex, ini salah gue, bukan salah mereka... Lu boleh siksa gue, tapi jangan kepada mereka...". Aku melihat Herman meneteskan air mata, ia pasti sangat menyesal sekali dengan perbuatannya yang dulu.

Alex tak menghiraukan Herman, baginya inilah hukuman yang pantas Herman dapatkan, melihat Agnes disakiti tentunya merupakan pukulan berat bagi Herman. Melihat kondisi ini, penisku pun mengeras, aku yakin Alex sudah pasti ingin menikmati Agnes. Alex kemudian melepaskan ikatan Agnes, "Ingat, nyama mereka semua ada ditanganku...", Alex kembali mengancam. Agnes terlihat pasrah, ia menangis dan gemetaran, tanpa perlawanan kemudian pakaiannya pun dilucuti Alex hingga lepas semua.

Sungguh indah tubuh Agnes walaupun dadanya tidak begitu besar dan postur tubuhnya tidak begitu tinggi, tapi lekukan tubuhnya yang langsing dan seksi dibarengi kulit yang putih mulus terlihat sungguh indah. Tidak heran, Agnes diperebutkan seperti ini, bahkan aku sendiri hampir tidak bisa menahan, penisku sudah tidak tahan, aku terus menelan ludah melihat indahnya tubuh seksi Agnes.

"LEPASIN AGNES LEX!!!" Herman terus berteriak, "BAJINGAN!" semua teriakan Herman tidak digubris Alex. Agnes gemetaran lalu dipeluk Alex, "Tenang saja Nes, nanti juga lu senang... Lagian kalau dulu si 'anjing' tidak memisahkan kita, mungkin kita sudah menjadi suami istri yang berbahagia...", Alex mencoba menenangkan Agnes. 'Anjing'? Apa maksud dia adalah Herman? Berarti Alex benar-benar sudah dendam sekali dengan Herman. Alex lalu kembali berciuman dengan Agnes sambil memeluk erat dirinya. "Layani aku sebentar saja Nes, mereka akan baik-baik saja...", kembali Alex mengingatkan posisi kami semua. Tanpa perlawanan Agnes pun diciumi tanpa berhenti.

Herman masih terus berteriak, namun suaranya sudah sedikit serak. Sedangkan Alex sudah menciumi hingga ke bagian dada Agnes. Dadanya yang tidak begitu besar namun putih itu terus diciumi dan diremas-remas oleh Alex. Lalu ia pun sudah memulai menyedot puting susu Agnes, memilin-milinnya hingga Agnes terlihat kegelian. Aku sedikit malu melihat aksi Alex, karena aku seharusnya tidak melihat adegan ini untuk menghormati bosku, Herman, namun pemandangan langka ini tidak boleh ku lewatkan. Terus menelan ludah menahan penisku yang mengeras, kulihat Herman sudah tak bersuara, ia mulai lelah akibat teriakannya.

Puas menikmati susu Agnes, Alex pun kemudian meminta Agnes berjongkok, sudah tahu apa niat Alex, ia mengarahkan penisnya ke muka Agnes, ia bermaksud menyuruh Agnes menyepong penisnya. Awalnya Agnes terlihat ragu, ia hanya memainkan penis Alex dengan tangannya. Alex menjambak rambut Agnes agar Agnes tidak ragu menyepongnya. Adegan selanjutnya Agnes sudah terlihat terbiasa menyepong penis Herman, bahkan kulihat gaya Agnes sudah sangat profesional, tidak heran karena pengalamannya yang sudah menjadi seorang istri. "Man, lihat ini... Hahahaha...", Alex tertawa terbahak-bahak, ia senang mengolok Herman. Ku lihat Herman tidak mampu bersuara, ia ngos-ngosan kecapekan.

Beberapa lama setelah itu, Alex sudah ingin ke tahap selanjutnya. Ia menarik rambut Agnes agar mengikutinya. Agnes diseret hingga ke depan, lantai yang hanya beralas kardus-kardus bekas. Alex kemudian berbaring terlentang, Agnes ditarik agar menjongkok. Alex meminta Agnes melayaninya dengan gaya WOT. Adegan yang aku tunggu-tunggu telah tiba, ku lihat Herman tidak mau melihat lagi, ia menundukkan kepalanya untuk tidak melihat perlakuan Alex terhadap Agnes, Herman sudah sadar usaha berteriaknya hanya sia-sia, sedangkan Chelsea masih tertidur pulas.

"Oh... Andai kau jadi milikku Nes...", desah Alex menikmati penisnya dikocok vagina Agnes. Alex meremas dada Agnes sambil berbaring, Agnes hanya menaik turunkan tubuhnya dengan mata yang tertutup, entah apa yang ia rasakan, kulihat antara sedih tapi menikmati. "Tapi semua sudah telat Nes... Hidupku sudah berubah...", kata Alex.

Beberapa puluh menit kemudian terlihat Agnes sudah sedikit lelah, Alex kemudian coba bangkit memeluk Agnes dan menekannya ke bawah hingga Agnes terlentang, sekarang gantian Alex yang berada di atas. Sambil menggenjot vagina Agnes, Alex kemudian mengulum susu Agnes. Dari sini terdengar jelas desahan Agnes yang merintih keenakan. Walaupun matanya tertutup karena malu diperlakukan begini, namun aku yakin dia telah menikmati sensasi seks ini. Badannya terus bergoyang mengikuti irama sodokan penis Alex di vaginanya. Permainan mereka pun berlangsung cukup lama, hingga Alex mencapai ejakulasi, ia membiarkan penisnya menyemprotkan sperma di dalam vagina Agnes. Agnes berusaha mendorong tubuh Alex, "Jangan Lex...", Agnes memohon sampai menangis, namun Alex memelukknya dengan erat sampai beberapa menit hingga penisnya mulai mengecil dalam vagina Agnes. Agnes pun menangis lebih keras, sperma Alex sudah memenuhi liang vaginanya. "Thanks Nes...", kata Alex lalu menarik keluar penisnya, ia tersenyum gembira, ini adalah kemenangannya. Herman tidak berkutik dipermalukan seperti ini.

Alex kemudian bangkit dan menjauhi Agnes, ia pun keluar dari ruangan ini. Agnes masih terbaring lemah sambil menangis. Aku tahu Agnes sudah menderita dan Herman juga sudah frustasi dengan keadaan ini, akhirnya aku buka mulut, "Nes, ayo bangkit Nes... Lepasin kita...", aku berteriak pelan agar Alex tidak mendengarnya, "Kita harus kabur dari tempat ini...", aku berharap Agnes bisa bangkit dan dan melepaskan ikatan kami.

Mendengar masukanku, Agnes kemudian coba berdiri, walaupun badannya lelah tapi ia terus berusaha, ia pun berdiri dan menghampiri kami, dengan berjalan terhuyung-huyung ia menuju ke arah Chelsea. Itulah yang memotivasinya untuk keluar dari tempat ini, dengan air mata yang masih menetes, ia melepaskan ikatan Chelsea. Anaknya itu masih terlelap, sehingga Agnes membiarkannya sejenak berbaring di dekat sana, lalu ia menghampiri Herman untuk melepaskan ikatan Herman. Herman terlihat masih menundukkan kepala, ia menyesal telah menyeret Agnes ke dunia yang begitu kejamnya.

Selesai melelaskan ikatan Herman, ia lalu mendekatiku untuk melepaskan ikatanku. Tubuhnya kulihat dari jarak dekat membuat penisku terus mengeras ingin melampiaskan gejolak. Dadanya putih sekali, ingin rasanya aku lumat. 'BRAKKK' suara keras tiba-tiba membuyarkan imajinasiku. Agnes pun berhenti melepaskan ikatanku, matanya lalu tertuju ke arah pintu. Gila, belasan pria berbadan besar tadi memasuki ruangan ini. "Ayo Nes, lepasin aku...", pintaku. Namun sebelum Agnes berhasil melepaskan ikatanku, seorang pria hitam besar berlari lalu menjambak rambut Agnes, lalu ia menariknya ke arah mereka. Semua kemudian mengerumuni Agnes, melihat demikian Herman lalu berlari ke arah mereka berusaha menyelamatkan Agnes. Namun apa daya, selain kalah postur tubuh, Herman juga kalah jumlah. Ia dipukuli pria-pria besar itu, ditendang hingga Herman tersungkur dan tak sadarkan diri. Sungguh malang sekali nasib mereka, karena sebentar lagi Agnes diharuskan melayani pria-pria besar itu. Satu, dua, tiga... delapan belas, iya tidak salah hitunganku, mereka berjumlah delapan belas orang.

Mereka lalu melepaskan pakaian mereka masing-masing. Mereka terlihat sangat bringas, Agnes ditampar dan digerayangi. Tak mau menunggu lama, mereka pun bergiliran menikmati Agnes yang tak berdaya. Satu pria dengan penisnya yang besar langsung menusukkan ke arah vagina Agnes, yang lain hanya meremas susu Agnes, satunya lagi menancapkan penisnya ke mulut Agnes yang mungil. Agnes menangis ketakutan, "Hiks hiks hiks...". Berjam-jam mereka tidak berhenti menikamti Agnes, secara non-stop bergiliran menggenjot vagina Agnes. Mereka pun tidak segan berlaku brutal, rambut Agnes dijambak, payudaranya ditampar, bahkan vaginanya ditusuk tanpa henti bukan hanya dengan penis mereka melainkan tongkat baseball yang mereka bawa sebagai senjata.

"Perek ini bening sekali ya...", kata mereka. "Bagus habis ini kita jual saja...", sambung yang lain. "Iya, pasti laku nih...", lanjut yang lainnya. "Oh ya, lihat tuh anak perempuannya sudah bangun...", kata yang lain melihat Chelsea sedikit bergerak karena terbangun. Apa yang akan terjadi dengan Chelsea? Apalagi kalau ia melihat kondisi ibunya seperti itu. "Hey, lu kan doyan anak-anak...", olok salah satu pria ke pada satu pria lainnya. Pria itu terlihat mempunyai kelaianan, ia kemudian bangkit dan mendekati Chelsea. "Jangaannnnn........", Agnes mencoba memohon, ia terlihat tak mampu lagi ber teriak.

Pria besar yang mendekati Chelsea itu lalu menarik Chelsea, anak itu kaget lalu menangis, "Mamaaaa....", teriaknya. Kasihan sekali, anak perempuan yang masih kecil itu sebentar lagi akan dinodai. Herman masih pingsan, dan aku terikat erat di sini tak mungkin menolong, namun walaupun aku tidak terikat, aku juga tak mungkin mampu menolong. Yang aku lakukan hanya bisa coba memohon, "Hei, dia masih anak-anak... Teganya kalian... Coba kalian bayangkan kalau itu terjadi pada anak kalian?!...", aku coba menyadarkan mereka. Namun pria itu tidak menggubris, ia menangkap Chelsea lalu menarik koyak baju Chelsea.

Pria yang mengerumuni Agnes malah marah padaku, "Hey, bisa diam ga lu?! Atau mau gue bunuh?!", ancamnya membuatku langsung terdiam. "Jadi orang gak usah munafik!", sambung satu temannya. Kemudian salah satu dari mereka mendekatiku dan meremas kelaminku, "Wah, otongnya keras, dia konak broooo....", teriaknya kepada kawan-kawannya. "Hahaha, gak usah munafik, nih kita kasih jatah...", sambut kawannya langsung menyeret Agnes ke arah ku. Pria yang tadi meremas penisku langsung membuka resleting celanaku, ia menarik keluar penisku, "Ayo kulum...", mereka meminta Agnes mengulum penisku. Entah apa yang kurasakan lagi, semua gelora berkecamuk dipikiranku, ku alihkan pandangan ke arah Chelsea, ternyata anak perempuan itu masih menangis dengan kondisi tubuhnya yang sudah bugil tanpa satu helai pakaianpun, dada nya rata, ia hanya anak berumur sekitar tujuh tahunan, sunggub bajingan mereka.

Tak bisa berpikir lebih lanjut, tiba-tiba penisku terasa hangat, Agnes dengan terpaksa mengulum penisku dengan posisi di-'doggie' oleh pria berbadan besar penuh tatto, pria lain memegabgi Agnes agar ia tidak lelah dengan posisinya, yang lain sambil meremas-remas susu Agnes. Sedangkan satu pria keluar dan kemudian kembali dengan membawa seember air penuh, "Gue mau liat reaksi pria ini...", ia lalu menguyurkan air itu ke arah Herman, membuat Herman tersadar dari pingsannya.

Pria itu menarik bangkit Herman, "Liat jing! Wanita yang lu cintai... Sedang melayani kami, bahkan melayani temanmu sendiri...", ia memaksa Herman memandang ke arah kami. Aku sangat tidak enak, aku menggelengkan kepala, entah apalagi yang dirasakan Herman kemudian. Ia menangis tanpa mau melawan, pria itu lalu mendorongnya jatuh. Namun ketika Herman memandang ke arah Chelsea yang sedang dipeluk satu pria, Herman terlihat marah, ia bangkit dan mau melawan, kemudian ia tetap dilumpuhkan dengan tendangan pria yang tadi menyiramnya. "Lu nonton aja!!", kata pria itu masih menendang Herman agar Herman tidak melawan.

Aku telah merasakan nikmat duniawi, penisku benar-benar nyaman diemut oleh Agnes. Sungguh hangat penisku berada di dalam mulutnya, Agnes hanya menangis dan mengikuti perintah. Dengan gaya doggie, Agnes terus menyepong penisku tanpa henti, sedangkan pria-pria yang men-doggie nya sudah silih berganti. Dan sebentar lagi aku juga akan mencapai tahap ejakulasi, kurasakan nikmat mencapai ujung penis, akhirnya aku pun menyemprotkan sperma ke dalam mulut Agnes.

"Bajii... nggaannnnn....", Herman tak mampu melawan, ia hanya bisa terus tersungkur karena dipukuli pria tadi. Kami hanya bisa melihat adegan ini tanpa perlawanan. Yang paling menyedihkan adalah nasib Chelsea, ia sudah terlihat pingsan karena tak mampu menahan rasa sakit ketika vaginanya ditembus penis jumbo pria berkelainan seks itu. Pria tersebut terus mengenjot anak Agnes yang masih kecil. Chelsea memang terlihat cantik, kalau sudah besar pasti akan menjadi pujaan lelaki, tapi sangat disayang hidupnya telah hancur seperti ini. Rambutnya yang panjang dan hitam terus dibelai pria itu, bibirnya yang mungil dilumat, lalu juga ke arah susunya yang rata, kulitnya putih sehingga bekas cupangan sangat terlihat jelas.

Sedangkan nasib Agnes masih belum berubah, walaupun ia sudah selesai menyepong penisku, kini ia diharuskan menyepong penis milik pria lainnya. Entah sudah berapa pria yang telah menggilirnya, tapi permainan ini sama sekali belum berakhir, apa mereka akan menawan kami sampai waktu yang cukup lama? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa kami akan dibunuh? Aku tak mampu memikirkannya lagi, sekarang aku hanya menyaksikan adegan 'live' yang sangat seru.

Kini kulihat Agnes berada di atas salah satu pria yang berbaring dilantai, pria itu kemudian memeluknya dengan cukup erat sehingga pantatnya sedikit nungging. Dengan vagina yang masih tertancap penis, salah satu pria mendekati Agnes dan ingin melakukan aksi anal. Tak mau lama-lama, pria itu dengan cepat dan kasar menusukkan penisnya ke lubang anus Agnes. "Argggghhhhhhh!!!!....", teriak Agnes. Kini lubang vagina dan anusnya telah tertancap penis, giliran mulutnya yang akan disumpal penis pria lainnya. Aku tidak tega melihat Agnes mengejang kesakitan seperti itu, tubuhnya mungil tampak terlihat seperti sedang berada dalam genggaman para monster.

Lama sekali mereka menggenjot Agnes, lalu kualihkan pandangan ke arah Chelsea, ia masih terus digenjot pria tadi. 'Apa enaknya?' pikirku dalam hati, kok pria itu sangat menikmati, menggenjot tubuh seorang anak kecil dan melumat susu yang rata. Sungguh bajingan yang berotak gila, sifatnya tak jauh dari sifat temanku, Tono, yang mempunyai kelainan seks juga.

'BUKKK!' suara tendangan yang sangat keras mengarah ke perut Herman. Ternyata Herman masih mencoba bangkit untuk menyelamatkan Chelsea. "Lu ini gak tau diuntung ya?! Syukur-syukur kalian gak kami bunuh...", kata pria yang menendang Herman itu. "Hahaha, apa dia juga mau nyicip anak ini?", gurau pria yang sedang menggenjot Chelsea. "Tenang saja, tar kalo gue dah puas, lu bole nikmatin juga kok...", sambungnya yang semakin membuat Herman marah. Masih beberapa pukulan dan tendangan mengenai Herman, mulutnya sudah mengeluarkan darah, matanya pun bengkak sebelah.

Agnes sudah mulai tidak sadarkan diri, sekarang hanya satu pria yang memperkosanya, sedangkan pria lain sudah puas mendapatkan giliran. Tubuh Agnes penuh dengan cupangan, wajahnya belepotan dengan sperma, bahkan masih ada beberapa tetes yang mengalir keluar dari mulutnya. Setelah berhasil berejakulasi di dalam vagina Agnes, pria itu pun kemudian mencabut penisnya, terlihat jelas sperma menetes keluar dari lubang vagina Agnes. Kemudian pria itu membopong tubuh Agnes dan dilemparkan ke arah Herman. "Nes...", seru Herman ketika tubuh Agnes didekatnya, Herman lalu memeluknya dan coba membuatnya terjaga.

"Woi! Gue bukan suruh lu pelukin dia!", kata satu pria, lalu pria lain pun menyambung, "Kami mau liat lu ngentot sama tuh perek!". Herman lalu melotot ke arah mereka, seakan tidak percaya betapa malang nasib Agnes. "Napa? Mau lawan? Atau biar kami telpon kawan kami yang lainnya lagi biar lebih rame lagi ngentotin tuh perek?", ancam satu pria.

Herman lalu memucat wajahnya, pelan-pelan akhirnya ia membuka bajunya. "Kalau gak mau, tar kita kentot tuh anak juga...", tambahnya mengancam. "Bole bro, gue dah selesai ne...", kata pria yang memperkosa Chelsea. Tubuh Chelsea yang lunglai ditinggalkan begitu saja dengan vagina yang berdarah karena koyak ditembus penis besar, sekitarnya terlihat cairan sperma yang tertinggal. Herman tak berkutik, ia hanya bisa menuruti kemauan pria-pria itu, Herman mulai menggenjot Agnes yang sedang pingsan. Sinar cahaya air mata terlihat dari wajah Herman, ia terus menangis sambil menyetubuhi Agnes. Malang sekali, pria-pria jahanam itu malah bersorak-sorai, mereka pun kembali mengenakan pakaian mereka sambil mengawasi tingkah laku kami.

Akhirnya ku lihat Herman mengejang, ia sudah berejakulasi dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Agnes. "Hebat! Lu ternyata juga doyan ma perek ini... Hari ini kami jual gratis, lain kali mesti bayar loh...", ejek pria bertubuh gede itu. Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku. "Hei, lu mau ga? Gratis loh...", seru pria itu ke arah ku, aku pun langsung diam dan berpura-pura tertidur. "Biarin aja bro, anggap aja dia lagi ga mujur, hahahaha...", olok kawannya mengira aku sudah tertidur. Aku hanya pura-pura tertidur, namun aku masih jelas mengetahui aktivitas mereka. Mereka terus berbicara sambil merokok, mengawasi kami dengan cermat.

"Yuk cabut...", aku mendengar ada pria yang berkata demikian, aku tidak berani mengangkat kepalaku, ku biarkan hingga ku dengar pintu terbuka dan tertutup kembali. Saat ku angkat kepalaku, ruangan sudah tidak ada mereka, sebelah kiri hanya ada Chelsea yang tertidur pulas, sedangkan depanku ada Herman yang juga tertidur memeluki Agnes. Kondisiku yang cukup baik, walaupun terikat tapi setidaknya aku tidak disiksa mereka, malah mendapat sedikit kenang-kenangan, dengan kondisi terikat, penisku masih bergelantungan di luar celana yang resletingnya terbuka.

Menunggu cukup lama, akhirnya aku pun tertidur. Dan suara gaduh kemudian membangunkanku, dengan mata sayup-sayup ku coba melihat keadaan sekitar. Sedikit lega, aku melihat ruangan ini ramai dengan polisi, mereka lalu mengevakuasi Herman, Agnes dan Chelsea. Kemudian salah satu polisi mendekatiku dan melepaskan ikatanku. Beberapa polisi terlihat menggeledah kotak-kotak yang ada di ruangan, ternyata isinya adalah botol-botol bir, dan beberapa memasang garis polisi. Kami pun dibawa ke mobil mereka dan meminta kami menjelaskan apa yang terjadi di kantor polisi.

Aku masih sedikit pusing, tapi sesampai di kantor polisi, ku lihat Herman dengan lancar menceritakan apa yang terjadi, walaupun wajahnya masih bengkak di mana-mana. "Pokoknya Alex harus ditangkap! Berapapun akan aku bayar!", Herman menegaskan. Sedangkan Agnes dan Chelsea dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Aku pun dimintai beberapa kesaksian, dan aku menceritakan semuanya yang terjadi.